Studi Komparasi Hukum Perkawinan Wanita Hamil di Luar Nikah Antara Fiqh Empat Madzhab dan Kompilasi Hukum Islam Perspektif Mashlahah

Main Article Content

Qomaruddin
Rachamtullah

Abstract

Marriage problems for married by accident are often debated. In the fiqh of the four madzhab (Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah and Hanabilah) the Moslem scholars differ in their arguments. The Jumhur of the Shafi'iyah cleric who is the most practiced by the Indonesian Islamic community, states that it is not valid until the child is born. KHI is the result of deliberations by Indonesian Moslem scholars to try to accommodate these differences opinion. The existence of article 53 is expected to be the best formulation and bring maslahah to the current people situation and condition, as well as being a guide for the Moslem headman in carrying out duties in the marriage field.


Masalah perkawinan wanita hamil di luar nikah sering menjadi perdebatan. Dalam fiqh empat madzhab (Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah)  ulama-ulama berbeda dalam memberikan argumentasinya. Jumhur ulama syafi’iyah yang merupakan madzhab paling banyak dianut  masyarakat islam Indonesia menyatakan  tidak sah sampai anak dalam kandungannya lahir. KHI merupakan hasil musyawarah para ulama Indonesia berupaya mengakomodir perbedaan pendapat tersebut. Lahirnya  pasal 53 diharapkan menjadi rumusan terbaik dan mendatangkan maslahah pada situasi dan kondisi umat saat ini, sekaligus menjadi pedoman bagi penghulu dalam melaksanakan tugas di bidang perkawinan

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Qomaruddin, and Rachamtullah. “Studi Komparasi Hukum Perkawinan Wanita Hamil Di Luar Nikah Antara Fiqh Empat Madzhab Dan Kompilasi Hukum Islam Perspektif Mashlahah”. Jurnal Bimas Islam 11, no. 3 (September 30, 2018): 507–536. Accessed September 26, 2022. https://jurnalbimasislam.kemenag.go.id/jbi/article/view/61.
Section
Articles

References

Basri, Hasan, Kompilasi Hukum Islam dan Peradilan Agama dalam Sistem Hukum Nasional, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, Cet. II, 1999.
Fajar ND, Mukti dan Yulianto Ahmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010.
Hasan Ali, Imâm bin Husain, An-Nutf fil Fatawa, Dâr al-Furqân, Cet. II, Juz I, 1984.
Ishak Ibrahîm, Abû bin Ali, Al-Muhaddab fil Fiqh Imâm Asy-Syafi’i, Darl Al-Kutub Al-Alamiyah, Juz II.
Muhdlor, Zuhdi A., Memahami Hukum Islam, Bandung: al-Bayyan, 1995.
Malik, Imâm, bin Anas Bin Malik bin Amir, Al-Madwanah,Darul Qutubi Al-Alamiyah, Cet. I, 1994, Juz II
Khallaf, ‘Abd a-Wahhab, Ushul Fiqh, Beirut: Dâr al-Fikr, Cet. ke-20, 1986.
Al-Rahmân, ‘Abd bin Muhammad bin Sulaiman, Mujma’ Al-Anhar, Juz I.
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta : Rajawali Pers, 2010.
Al-Syawkani, t.t. Musthofa Zaid, 1964.
Zakariyâ, Imâm bin Muhammad bin Ahmad, Al-Garorul Bahiyyah fil Buhjatul Wardiyah, Matbaah Maimaniyah, Juz IV.
Zakariyâ Muyyiddin Yahya, Abû, Majmu’ Syarah Al-Muhaddab, Dâr al-Fikr, Juz XVI.
Zakariyâ bin Muhammad bin Ahmad, Buhjah al-Wardiyah, Matba’ah Maimaniyah, Juz XVI.
Website
Linggasari, Yohanie, Belasan ribu Anak Nikah Karena Terlanjur Hamil, https://www.cnnindonesia.com/nasional/20150413180603-20-46343/belasan-ribu-anak-nikah-dini-karena-terlanjur-hamil.
Mengapa umat Islam Indonesia bermadzhab Syafi’i, https://www.republika.co.id/berita/duniaislam/khazanah/16/06/02/o84jwk320-mengapa-umat-islam-indonesia-bermazhab-syafii