Relevansi Konsep Rujuk Antara Kompilasi Hukum Islam, Undang-UndangKekeluargaan Malaysia, Dan Pandangan Imam Empat Madzhab

  • taufan firdaus Pesantren Raoudlatul Muta'alimin Bandung
  • neng lisyahidah Pesantren Raoudlatul Muta'alimin Bandung
Keywords: reconciliation, imam madzhab, regulation

Abstract

Abstraksi

Para ulama sepakat rujuk itu diperbolehkan dalam Islam. Upaya rujuk ini diberikan sebagai alternatif terakhir untuk menyambung kembali hubungan lahir batin yang telah terputus.Dari analisa yang telah penulis lakukan ternyata Imam Hanbali berpendapat bahwa rujuk hanya terjadi melalui percampuran. Begitu terjadinya percampuran, maka terjadilah rujuk walaupun tanpa niat. Menurut Imam Hanafi, selain melalui percampuran rujuk juga bisa terjadi melalui sentuhan dan ciuman, dan hal-hal sejenisnya. Imam Malik menambahkan harus adanya niat rujuk dari sang suami disamping perbuatan, pendapat ini bertolak belakang dengan pendapat Imam Hanafi yang menyatakan rujuk bisa terjadi dengan perbuatan saja tanpa adanya niat. Sedangkan Imam asy-Syafi’i rujuk harus dengan ucapan yang jelas bagi orang yang dapat mengucapkannya, dan tidak sah jika hanya perbuatan. Sedangkan pendapat yang dianggap lebih relevan dengan konteks Indonesia adalah pendapat Imam asy-Syafi'i-lah yang mewajibkan dengan adanya saksi.

 

Abstract

The scholars agreed that reconciliation is allowed in Islam. This reconciliation effort is given as a last alternative to reconnect inner and outer relationship that disconnected. From the analysis that has been done brought to Imam Hanbali thought that reconciliation only occur through mixing. Once the mixture happen, then there is reconciliation eventhough there is no intention. According to Imam Hanafi, instead of mixing, reconciliation occur through touch and kiss and stuff like that. Imam Malik added it should refer to their intention of action in addition to the husband, this opinion is contrary to the opinion of Imam Hanafi that states reconciliation can be happen if there is physical action without any intention. While Imam Shafi'i stated that reconciliation need a clear speech for people who can say it, and invalid if it just show by the behaviour. On the other hands, opinion is considered more relevant to the context of Indonesia is the opinion of Imam Shafi'i was the statement that requires the present of a witness.

Downloads

Download data is not yet available.

References

AhmadAmirullah, dkk. , Dimensi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional, Jakarta: Gema Insani Press, 1996.
Al-Jaziri, Fiqh ala Mazabib al-Arba’ah,t. p. t. th.
-------------, Ensiklopedi Islam, Jakarta : PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2001.
Al-Khin, Mustofa, Mustofa Al-Bugho & Ali Asy-Syarbaji, Fiqh al-Manhaji:Kitab Fikah Madzhab Syafie, j. 4. Kuala Lumpur: Pustaka Salam, t. th.
Aziz Dahlan, Abdul, Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996, Jilid 3.
Basri, Hasan, Keluarga Sakinah : Tinjauan Psikologi dan Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.
Baqir Al-Habsyi, Muhammad, Fikih Praktis; Menurut Al-Qur‟an, As-Sunnah dan Pendapat Para Ulama, Bandung : Mizan, 2002.
Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Shalih bin, Ringkasan Fikih Lengkap, Riyadh: Dâr Al-Ashimah, 2002, Cet. I.
Ibrahim, Said, 400 Soal Jawab Nikah Kawin,Selangor: Darul Ehsan Darul Ma‘rifah, 2001.
Ichsan, Ahamad, Hukum Perkawinan Bagi Yang Beragama Islam, Jakarta: Pradnya Pramita, 1979.
Jusni Sulong, “Kedudukan Madhab Syafi’i dalam Perikahan dan Warisan di Malaysia”,dalamJurnal Syariah, Vol. 16.
Lapidus, Ira M, Sejarah Sosial Ummat Islam, Jakarta: PT. Grafindo Persada, 1999, cet. I, h. 353.
Mas’udi, Ibnu, Edisi Lengkap Fiqih Madzhab Syafi’i, Bandung : Pustaka Setia, 2007, Jilid II.
Monir Yaacob, Abdul, Pelaksanaan Undang-Undang Islam dalam Pengadilan Syariah dan Pengadilan Sivil di Malaysia, Kuala Lumpur- IKIM: 1995.
Nasution, Khoirudin, Status Wanita di Asia Tenggara, Lieden – Jakarta: INIS, 2002.
Nik Badli Shah, Nik Noriani, Perkawinan Dan Perceraian Di Bawah Undang-Undang Islam, Kuala Lumpur: International Law Book Services, 1998.
NikBadli Shah, Nik Moriani, Undang-Undang Keluarga Nafkah dan Hak-Hak Kewenangan Lain, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1992.
Nuruddin, Amiur, Hukum Perdata Islam di Indonesia, Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih, UU No. 1/1974 sampai KHI, Jakarta: Kencana, 2006.
--------------------, Undang-undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Humum Islam, Bandung: Citra Umbara, 2007.
Peaslee, Amos, Constitusion Of Nations, The Hague: Martinus Nijof, 1974.
Rafiq, Ahmad, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Rajawali Press, 1998.
Rahman, Abdur, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Akademika Persindo, 1992.
Rahman Ghozali, Abdul, Fiqh Munakahat, Jakarta: Kencana, 2008.
Rifa’i, Moh. , Fiqih Islam Lengkap, Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1978.
Rofiq, Ahmad, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2002.
Rusyd, Ibnu, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, diterjemahkan oleh Imam Ghazali Sa’id, Bidayatul Mujtahud, Analisa Fiqih Para Mujtahid, Jakarta : Pustaka Amani, 2007.
Rusyd, Ibnu, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Beirut : Dâr Al-Jîl, 1989, h.
1448.
Saleh, Hasan, Kajian Fiqh Nabawi dan Fiqh Kontemporer, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2008.
Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qur’an, Bandung : Mizan, 1992.
Sukardja, Ahmad, Hukum Keluarga dan Peradilan Keluarga di Indonesia, Jakarta: Pengadilan Agung RI, 2001.
Syarifuddin, Amir, Hukum Pernikahan di Indonesia antara Fiqh Munakahat dan Undang-Undang Pernikahan, Jakarta: Kencana, 2006.
Syarifuddin, Amir, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia : Antara Fiqh Munakahat dan Undang-undang Perkawinan, Jakarta: Kencana, 2006.
Umbara, Citra, Undang-undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam, Bandung : Citra Umbara, 2007.
Wanni Maq, Hasbul, Perkawinan Terselubung Diantara Berbagai Pandangan, Jakarta: Golden Teragon Press.
Published
2016-12-30
How to Cite
firdaus, taufan, and neng lisyahidah. “Relevansi Konsep Rujuk Antara Kompilasi Hukum Islam, Undang-UndangKekeluargaan Malaysia, Dan Pandangan Imam Empat Madzhab”. Jurnal Bimas Islam 9, no. 4 (December 30, 2016): 759-808. Accessed June 1, 2020. http://jurnalbimasislam.kemenag.go.id/index.php/jbi/article/view/163.